Untuk Apa?

Jakarta, 7 September 2025

Mereka. Tidak. Mendengar.

Pada bulan Agustus 2025, gelombang demonstrasi semakin banyak dan semakin besar. Represi terus dilakukan aparat yang ugal-ugalan dalam menjalankan tugas. Mirisnya, pemerintah tetap tidak peduli. Mereka merespons dengan berkata bahwa demonstrasi adalah hak, seolah perkataan tersebut cukup untuk menggugurkan kewajiban mereka untuk merespons aspirasi kami. Kami tidak butuh mereka merapalkan bahwa demonstrasi adalah hak kami; kami perlu suara kami didengar dan keinginan kami dijalankan.

Sejak awal kita semua tahu bahwa Prabowo berasal dari kalangan elit militer yang tumbuh di keluarga ningrat. Seperti yang dideskripsikan oleh mendiang sahabatnya, Prabowo adalah orang yang naif. Tampaknya sifat itu tidak berubah. Presiden Republik Indonesia seakan mengunci diri di menara gadingnya yang berkabut dan dipenuhi kemewahan yang usang.

Bagi saya, salah satu keanehan Prabowo adalah ia seperti hidup dalam era yang berbeda. Ia seakan tidak pernah beranjak dari masa Orde Baru. Ia penuh dengan kecurigaan terhadap kami, rakyatnya. Entah setan mana yang membisikinya, tapi kami khawatir ia mendapatkan informasi yang berbeda dengan realita. Alih-alih merespons aspirasi, ia malah berfokus pada hal-hal di luar esensinya dan semakin sering meneriakkan jargon antek asing miliknya. Mereka yang membelanya secara buta mungkin akan berkata, “Presiden memiliki akses informasi dan pasti lebih tahu dibanding kamu.”

Setiap perkataan yang diucapkan setiap orang dalam kapasitasnya terkait jabatan yang dimilikinya harus selalu bisa dipertanggungjawabkan. Membalas aspirasi yang kami sampaikan dengan meneriakkan jargon antek asing tanpa pembuktian apa pun adalah sebuah kegilaan. Bila memang ada antek asing yang dimaksud, apa yang harus kita semua lakukan? Apa yang sebenarnya seorang Prabowo ingin kita semua lakukan dengan teriakannya itu? Tanpa kejelasan dan tindak lanjut, jargon tersebut justru bisa menumbuhkan rasa curiga dan kebingungan di masyarakat luas; sebuah perbuatan yang sangat tidak bertanggung jawab. Ia seperti terus melempari batu ke dasar kolam agar airnya tetap keruh.

Sampai kapan?

Untuk apa?