Jakarta, 6 September 2025
Menulis kembali
Entah berapa lama sejak terakhir kali saya menulis secara serius apa yang menjadi pikiran saya. Beberapa hari lalu, titik didih kemarahan kami sebagai rakyat Indonesia mencapai puncaknya: Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online tewas ditabrak dan dilindas kendaraan taktis Brimob di tengah gelombang demonstrasi masif dan berkepanjangan di seluruh negeri.
Ketika sedang melihat Threads, saya menemukan video mengenaskan tersebut. Beberapa video yang ditangkap massa dari berbagai sudut memperlihatkan kebrutalan itu: sebuah mobil Brimob melaju kencang di tengah keramaian jalan di Pejompongan. Affan terjatuh tepat di depan kendaraan lapis baja tersebut, lalu ia ditabrak. Kendaraan itu berhenti beberapa detik. Kerumunan warga berteriak dan menggebuki mobil, meminta pengendaranya untuk berhenti. Mobil tidak bergeming. Tubuh Affan digilas. Kendaraan setan itu tersentak dua kali saat rodanya melindas tubuh Affan dan melaju kabur. Kerumunan warga dan semua yang menyaksikan melolong. Rekaman video bergetar.
Kemarahan menjalar ke seluruh tubuh saya hingga ke ujung kepala. Saya langsung membagikan video tersebut ke Instagram. Banyak sekali teman-teman yang begitu marah. Beberapa bahkan menghubungi saya hanya untuk membagikan kemarahan mereka. Malam itu saya tahu bahwa saya tidak sendiri.
Malam itu dan malam-malam setelahnya saya tidak bisa tidur. Rasa takut dan bingung bercampur aduk dibungkus kuat kemarahan. Saya mengabari Ibu tentang kejadian tersebut, memohon doa untuk keselamatan negeri ini. Sesuatu yang besar sedang terjadi.
Saya tidak ingin lupa. Saya tidak ingin orang-orang lupa. Saya akan menulis.